The Four Fingerd Pianist (An Inspiring True Story of Hee Ah Lee)


The Four Fingerd Pianist (An Inspiring True Story of Hee Ah Lee)
Nov 5, ’10 9:09 AM
for everyone
Category: Books
Genre: Biographies & Memoirs
Author: Kurnia Effendi

Buku karangan Kurnia Effendi ini menceritakan tentang kehidupan seorang pianis istimewa. Terlalu dini untuk menyebutnya biografi. Buku ini menceritakan mengenai Hee Hee Ah. Seorang pianis yang istimewa,karena dia adalah seorang yang memiliki keterbatasan, secara fisik dia adalah menderita lobster clawn syndrome, kaki-nya pun hanya sebatas lutut, selain itu dia juga mengalami down syndrome.
Lobster clawn syndrome adalah dimana jari Hee Ah Lee hanya berjumlah empat layaknya capit kepiting. Keadaan fisik ini sebenarnya sudah diketahui oleh ibunya, Woo Kap Sun, sejak masih dalam kandungan. Bahkan dokter sempat menyarankan untuk menggugurkan saja. Namun, saran dokter ini ditolak. Setelah menikah selama tujuh tahun dan belum mendapatkan anak, memiliki anak adalah sebuah harapan yang selalu ditunggu-tunggu. 
Kebiasaan Ibu Hee Ah yang sering mengkonsumsi obat sakit kepala dan obat flu ketika msih hamil muda, diduga kuat penyebab keistimewaan Hee Ah. Ibu Ahh Lee dulunya adalah seorang perawat yang kemudian menikah dengan Wun Bong Lee, seorang tentara Korea yang kemudian lumpuh karena cedera dalam tugas. 
Kelahiran Ahh Lee ini tentu sangat dinantikan ibunya, namun tidak bagi keluarga besarnya, bahkan mereka menyarankan agar dibawa ke panti asuhan, karena keadaannya pasti akan menyusahkan dia sendiri. Namun, Ibu Hee Ah menolak. Bayi mungil, berwajah rembulan itu tetap ingin dia rawat. BAyi mungil itu kemudian diberi nama Hee Ah Lee. Hee berarti suka cita atau kegembiraan, Ah adalah tunas pohon yang terus tumbuh, sementara Lee merupakan nama keluarga. Jadi Hee Ah Lee diharapkan akan terus tumbuh dengan perasaan suka cita seperti tunas pohon. 
Perkenalan dengan piano sebenarnya karena keinginan ibunya agar jari-jari Hee Ah mampu digunakan secara maksimal. Piano digunakan untuk semacam terapi, karena hingga usia 7 tahun, dia tidak mampu menggenggam. Keterbatasan Hee Ah, justru tak membuat ia diperlakukan istimewa, ia tetap diperlakukan layaknya anak normal lainnya. Keadaan ini membuat ibu Hee Ah melakukan terapi sendiri dengan piano kecil di rumah. Ia bermaksud melatih jari-jari tangan Hee Ah Lee dengan cara menekan tuts piano. Semacam latihan otot motorik, untuk memperkuat jarinya yang lemah itu.
Lagu pertama yang dipelajari Hee Ah adalah Nabiya Nabiya yang berarti kupu-kupu. Lagu anak-anak di Korea yang sangat mudah di hafal, namun bagi Hee Ah ia harus belajar selama tiga tahun hingga akhirnya dia mampu memainkannya dengan baik dan lancar. Sejak saat itu, hampir tiga belas jam sehari dia berlatih piano. Masa sulit pasti pernah dilewati, seperti ketika Ahh Lee mulai bosan bermain piano, namun semua sudah terlewat.Kini pianis istimewa ini mampu sedikitnya menguasai 17 komposisi lagu, 12 diantaranya repektorar piano klasik. 
Buku ini mengajarkan kita untuk mensyukuri keterbatasan yang kita miliki, sebab dengan keterbatasan yang kita miliki itu, kadang kita dapat menyadari setiap kelebihan yang terandung di dalamnya. Karena seorang yang memiliki keterbatasan akan berjuang dan sanggup mengatasinya merupakan kekuatan yang menakjubkan.

 

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s